Refleksi Hardiknas: Tantangan Guru di Zaman yang Semakin Abai pada Hormat

Opini150 Dilihat

Oleh : Haswan, S. Pd

Opini – Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.

Lebih dari sekadar peringatan, momen ini menjadi waktu untuk merenung bagi kita semua, khususnya para pendidik—guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi.

Saat ini, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum atau fasilitas, tetapi juga pada hal yang lebih mendasar, yaitu menurunnya sikap sopan santun dalam hubungan antara peserta didik dan pendidik.

Gejala seperti berkurangnya empati dalam interaksi sosial, serta menipisnya rasa hormat kepada guru dan dosen, menjadi hal yang perlu kita perhatikan bersama.

Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi terbentuk dari berbagai lingkungan yang saling memengaruhi, mulai dari keluarga, dunia pendidikan, hingga perkembangan media digital yang sangat cepat.

Dalam komunikasi, pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap, bahasa tubuh, dan cara bersikap. Karena itu, ketika pendidik menunjukkan sikap yang terbuka, menghargai, dan penuh empati, hal itu akan membentuk suasana belajar yang baik. Sebaliknya, komunikasi yang kurang bijak, baik secara langsung maupun di media sosial, dapat menjadi contoh yang tanpa disadari ditiru oleh peserta didik.

Namun demikian, banyak pula pendidik yang tetap menjaga sikap, menjadi teladan, dan memegang teguh nilai-nilai pendidikan dengan penuh tanggung jawab. Hal ini perlu kita apresiasi sekaligus menjadi pengingat bahwa peran pendidik sangat penting dalam menjaga kualitas karakter peserta didik.

Cara berpakaian yang rapi dan profesional, cara berbicara yang santun, serta penggunaan media sosial yang bijak, semuanya merupakan bagian dari komunikasi yang mencerminkan karakter seseorang. Dalam dunia pendidikan, guru dan dosen tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi contoh nyata dalam sikap dan perilaku.

Saya percaya, komunikasi yang santun dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Dalam komunikasi seperti ini, ada ketegasan tanpa merendahkan, ada kedekatan tanpa kehilangan wibawa.

Nilai yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” tetap relevan hingga hari ini. Pendidik harus mampu menjadi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang.
Refleksi ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang materi pelajaran, tetapi juga tentang bagaimana membentuk karakter melalui keteladanan.

Di momentum Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita kembali melihat diri kita masing-masing, bukan hanya dari apa yang kita ajarkan, tetapi juga bagaimana kita mengajarkannya. Karena setiap sikap dan ucapan pendidik akan memberi pengaruh pada cara peserta didik berpikir dan bersikap.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya proses menyampaikan ilmu, tetapi juga proses membentuk karakter. Dan itu dimulai dari satu hal yang paling sederhana namun paling bermakna: keteladanan seorang pendidik.

Komentar