Perempuan Bukan Sekedar Representasi: Mereka adalah Partisipasi 

Opini222 Dilihat

Oleh: Intan Pratiwi (Mahasiswa UIN Palopo prodi Hukum Tata Negara)

Opini: Sudah terlalu lama perempuan selalu ditempatkan sebagai simbol: ada dalam struktur, hadir dalam forum, pelengkap rapat atau sekedar simbol keberagaman,tapi tidak benar-benar dilibatkan dalam arah keputusan. Namanya tercatat, wajahnya terlihat, tapi suaranya tidak menentukan.

Budaya patriarki bekerja halus, membungkus ketidakadilan dengan istilah etika, kodrat , dan kesopanan. Perempuan diminta memahami, tapi tidak diberi ruang menentukan. Didorong aktif, tapi dibatasi ketika mulai kritis.

Perempuan bukan untuk memenuhi kuota.Tetapi perempuan hadir karena gagasan,keberanian,dan kesadaran penuh untuk mengubah.Kami bukan objek yang dipajang seperti kaligrafi,tapi kami subjek yang terus bergerak.

Dan lucunya,kehadiran itu sering dirayakan.Difoto,dipublikasikan,dijadikan bukti bahwa kita sudah inklusif. Padahal dibalik itu semua perempuan masih berjuang untuk hal paling mendasar yaitu didengar, maka terjadi kekeliruan dalam cara kita memahami keadilan.

Perempuan tidak butuh panggung untuk sekedar terlihat eksis, mereka butuh ruang untuk menentukan arah.Bukan sekedar duduk tapi berbicara dan Bukan sekedar hadir tetapi memutuskan.
Dan ketika perempuan mulai berani bersuara lantang itu bukan karena ia ingin menguasai tetapi karena mereka lelah terus dikerdilkan

Hari ini, perempuan tidak lagi menunggu dipersilakan bicara mereka berbicara,meski berkali-kali dipotong dan diragukan. Dan mungkin, itu yang membuat sebagian orang tidak nyaman.
Karena perempuan yang sadar tidak mudah diarahkan. Perempuan yang berani tidak mudah dibungkam.
Dan perempuan yang berpikir tidak lagi cocok dijadikan pelengkap. Karena perubahan tidak lahir dari representasi semata: tapi dari partisipasi yang nyata.

Komentar