Oleh: Denny (PJ Ketua LMND Lutra)
Ketika Jarak Menjadi Penentu Hidup dan Mati.
Opini – Di balik megahnya angka pertumbuhan ekonomi dan narasi kemajuan bangsa, ada sebuah luka yang terus menganga di jantung Sulawesi Selatan. Di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, “keadilan sosial” tampak seperti konsep yang asing. Di sana, detak jantung seorang janin yang seharusnya menjadi harapan keluarga, harus berhenti karena satu alasan yang menyakitkan: lambatnya pertolongan akibat akses yang lumpuh.
Di Rampi, jarak bukan lagi soal kilometer, tapi soal sisa waktu yang dimiliki pasien. Ketika fasilitas kesehatan di desa tak mampu menangani komplikasi, rujukan ke rumah sakit di ibu kota kabupaten adalah sebuah “perjalanan maut”. Seringkali, sebelum sempat melihat cahaya lampu rumah sakit, sang janin telah lebih dulu menyerah dalam guncangan tandu di tengah belantara.
Tragedi ini bukan sekadar musibah, melainkan cermin retak dari ketimpangan layanan kesehatan. Rampi adalah bukti nyata bahwa:
Fasilitas Kesehatan Bukan Sekadar Gedung: Puskesmas tanpa alat bedah darurat dan tanpa akses jalan yang memadai hanyalah sebuah bangunan kosong bagi pasien kritis.
Infrastruktur Adalah Hak Dasar: Jalan raya bukan sekadar untuk mobilitas ekonomi, tapi merupakan urat nadi keselamatan nyawa manusia.
Diskriminasi Geografis: Ibu hamil di pelosok dipaksa memiliki daya tahan fisik yang berkali-kali lipat lebih kuat dibanding mereka yang tinggal di kota hanya untuk bertahan hidup.
Kesimpulan: Menolak Lupa pada Sunyi nya Pegunungan
Kematian janin di Rampi adalah duka bagi kita semua. Setiap nyawa yang hilang di tengah perjalanan rujukan adalah pengingat bahwa negara masih memiliki utang besar pada masyarakat di garis depan perbatasan dan pegunungan.
Kita tidak boleh membiarkan masyarakat Rampi terus terbiasa dengan kematian yang “terencana” oleh keadaan. Perbaikan infrastruktur jalan dan penguatan fasilitas medis di tempat terpencil adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Karena bagi mereka, setiap detik keterlambatan adalah lonceng kematian yang berbunyi di tengah sunyinya pegunungan.
peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah yang se olah” mengabaikan hak dasar masyarakat yaitu kesehatan,ketidakmerataan layanan kesehatan di daerah terpencil,kekurangan tenaga medis yang siap siaga,serta jarak yang cukup jauh,menjadi biang kerok terhadap peristiwa ini.
kita berharap besar agar ada langkah kongkrit yang mesti di ambil oleh pemerintah daerah,provinsi atau pun pusat agar kejadian serupa itu tidak terulang lagi.pemerataan layanan kesehatan ada hak dasar warga negara indonesia yang harus menjadi prioritas pemerintah.










Komentar