Transformasi Pendidikan Islam di Era Society 5.0: Integrasi Teknologi, Keterampilan 21 Abad, dan Nilai Karakter Positif

Opini148 Dilihat

Oleh: Nurhalisa.

Dewasa ini perkembangan teknologi semakin pesat. Perkembangan ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, tanpa terkecuali khususnya dunia pendidikan.

Proses pembelajaran saat ini perlu mengedepankan penggunaan teknologi agar pendidikan sejalan dengan perkembangan zaman. Terlebih lagi sejak tanggal 2 Maret 2020 virus covid-19 masuk di Indonesia, mengharuskan sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) yang perlu menggunakan teknologi digital.

Saat diberlakukannya sistem pembelajaran daring, guru dituntut menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan keadaan, agar pembelajaran berlangsung efektif dan efisien.

Hal ini tentu berbeda dalam kegiatan pembelajaran konvensional, dimana guru menggunakan bahan ajar berupa buku paket tanpa harus menggunakan teknologi.

Pada tanggal 21 Januari 2019, Jepang meresmikan era society 5.0 yang dibuat sebagai resolusi atas revolusi industry 4.0. Era society 5.0 mengacu pada transformasi masyarakat dan ekonomi yang didorong oleh perkembangan teknologi digital, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, big data, Internet of Things (IoT), teknologi blockchain dalam proses produksi dan manufaktur. Hal ini memberikan dampak yang siginifikan terhadap dunia Pendidikan.

Salah satu dampak kemajuan teknologi yakni perubahan dalam peran guru. Guru lebih berfungsi sebagai fasilitator dan mentor, yang membantu siswa mengembangkan keterampilan kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Guru juga perlu menjadi terampil dalam menggunakan teknologi pendidikan, menganalisis data pembelajaran, dan merancang pengalaman pembelajaran yang menarik dan relevan.

Ziyadul Muttaqin (2023) dalam penelitiannya menemukan bahwa Chat GPT dapat digunakan guru untuk merancanng pembelajaran, evaluasi, dan meningkatkan kreativitas. Bagi siswa Chat GPT berfungsi untuk membantu siswa menemukan ide, bahasa, dan sumber perpustakaan. Chat GPT adalah salah satu bentuk contoh pengguaan artificial intelligence yang diresmikan pada akhir November 2022, dikembangkan oleh open AI.

Nur Fauziah (2023) mengungkapkan bahwa Pendidikan Islam harus menerapkan keterampilan 4C (berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas). Membekali peserta didik dengan kemampuan literasi data, literasi teknologi, dan literasi humanis.

Pendidikan islam juga perlu memaksimalkan keunggulan nilai-nilai Islam untuk memperkuat Pendidikan karakter di tengah kuatnya pengaruh pola materialistis masyarakat 5.0. Di sisi lain, Muhammad Afefee Assalihe (2023) menemukan bahwa tantangan dalam pendidikan Islam saat ini yakni sebagian besar guru terikat pada gaya mengajar konvensional dan andal dalam materi pelajaran yang kurang relevan dengan kebutuhan global masyarakat.

Secara keseluruhan, RI 5.0 berpotensi memberikan dampak positif pada dunia pendidikan dengan memfasilitasi pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, dan memfasilitasi pembelajaran sepanjang hayat. Demi mencapai potensi ini, sistem pendidikan harus dapat beradaptasi dengan cepat dengan perubahan teknologi dan mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam era digital.

Proses pendidikan Islam harus tetap membekali peserta didik dengan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masa depannya namun tidak terjebak pada sikap materialistis baik dari segi proses maupun produknya. Peran pendidikan Islam tidak hanya terfokus pada tugas mentransfer ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, harus mengedepankan pendidikan budi pekerti, akhlak dan keteladanan, serta menebar semangat dan inspirasi. Sebab, transfer ilmu pengetahuan bisa digantikan oleh teknologi, namun teknologi maju tidak bisa mengambil peran soft skill dan hard skill.

Di era society 5.0 diharapkan teknologi di bidang pendidikan dapat berkembang tanpa mengubah fungsi pendidik dalam memberikan pendidikan moral dan keteladanan bagi peserta didik. Namun, tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi justru menimbulkan permasalahan baru yang tidak dapat diselesaikan.

Dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat tinggi yang digunakan tanpa bimbingan moral, etika, dan nilai-nilai spiritual dari agama, menyebabkan manusia telah terseret pada jurang yang membahayakan keselamatan dirinya. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang membawa tidak hanya kemajuan dan kenyamanan, namun juga berbagai permasalahan kemanusiaan serta demoralisasi budaya dan spiritual yang parah yang tidak dapat diatasi dengan mudah.

Dengan demikian, selain mengintegrasikan teknologi dan keterampilan abad 21, pendidikan Islam juga harus mengintegrasikan kurikulum dengan sejumlah nilai karakter positif. Kurikulum pendidikan harus mampu melihat/mempertimbangkan perkembangan informasi dan teknologi yang berkembang. Kurikulum harus memberikan jawaban holistik/alternatif solusi terhadap apa yang terjadi di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *