STABN Raden Wijaya Kembangkan Sentra Ekoteologi, Menag Nasaruddin Umar Tekankan Spiritualitas Ramah Lingkungan

Daerah707 Dilihat

Wonogiri – Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya terus memperkuat perannya sebagai kampus pelopor pengembangan ekoteologi dengan menghadirkan Sentra Ekoteologi sebagai fasilitas unggulan. Inisiatif ini menjadi bentuk nyata implementasi salah satu dari delapan program prioritas (Asta Protas) Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, yang menempatkan harmoni antara agama dan lingkungan sebagai agenda strategis nasional.

Sentra Ekoteologi STABN Raden Wijaya dirancang dengan konsep unik, yakni mengintegrasikan tempat ibadah ke dalam kawasan konservasi alam. Desain ini menyampaikan pesan kuat bahwa praktik keagamaan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab pelestarian lingkungan. Spiritualitas dan ekologi diposisikan sebagai satu kesatuan nilai yang saling menguatkan.

Sebagai simbol dukungan terhadap pengembangan kawasan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar melakukan penanaman pohon alpukat di area Sentra Ekoteologi. Kegiatan ini turut didampingi oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag RI, Supriyadi, serta Wakil Bupati Wonogiri.

Dalam sambutannya, Menag menguraikan filosofi mendalam mengenai relasi manusia dan alam. Ia menegaskan bahwa alam semesta tidak boleh dipandang semata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan yang memiliki hak untuk dijaga keberlanjutannya.

“Filosofinya, manusia dan alam memiliki keterikatan yang kuat. Kita tidak boleh memperlakukan alam secara semena-mena. Alam semesta beserta seluruh isinya memiliki hak untuk lestari, dan manusia memiliki kewajiban moral untuk memuliakannya, bukan mendzaliminya,” tegas Nasaruddin Umar.

Menag juga menyoroti kecenderungan manusia modern yang terlalu berorientasi pada materi hingga mengabaikan keseimbangan ekosistem. Menurutnya, Sentra Ekoteologi di STABN Raden Wijaya diharapkan menjadi laboratorium kesadaran ekologis bagi mahasiswa. Di ruang ini, civitas akademika tidak hanya mempelajari ajaran agama secara teoritis, tetapi juga mempraktikkan etika terhadap bumi (eco-ethics) dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita perlu memperluas cakupan akhlak. Tidak hanya akhlak kepada Sang Pencipta dan sesama manusia, tetapi juga akhlak terhadap lingkungan, tumbuhan, dan hewan. Spiritualitas yang inklusif adalah yang membawa rahmat bagi semesta alam, sejalan dengan doa universal ‘Semoga Semua Makhluk Berbahagia’,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua STABN Raden Wijaya, Dr. Sulaiman, menjelaskan bahwa Sentra Ekoteologi mengusung semangat inovasi dengan tagline “Mengubah Sampah Menjadi Emas, Mengubah Emas Menjadi Berkah.” Konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya pengolahan limbah menjadi energi terbarukan yang bernilai ekonomis dan ekologis.

Menurutnya, keberadaan tempat ibadah di dalam kawasan ekoteologi menjadi pengingat simbolik bahwa menjaga kesucian lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari menjaga kesucian batin dan praktik spiritual.

Melalui simbolisasi penanaman pohon alpukat, Menteri Agama berharap tanaman tersebut tumbuh subur sebagai saksi komitmen STABN Raden Wijaya dalam merawat bumi secara berkelanjutan. Sentra Ekoteologi ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara ekologis, serta siap menjaga harmoni kehidupan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual di masa depan.

Komentar