Upaya Revitalisasi Kompleks Makam Datuk Sulaiman dapat Respons Positif dari Akademisi UIN Palopo

Daerah1384 Dilihat

LUWU UTARA – Bupati Andi Abdullah Rahim mengemukakan gagasan strategis terkait pengembangan objek wisata religi di Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, yakni Kompleks Makam Datuk Pattimang sebagai destinasi unggulan berskala nasional.

Gagasan tersebut disampaikan saat Andi Rahim melakukan ziarah ke kompleks makam pada Sabtu (25/4/2026), dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-27 Kabupaten Luwu Utara.

Menurutnya, kawasan tersebut bukan sekadar tempat pemakaman tokoh berpengaruh, melainkan simbol penting peradaban Islam di Tana Luwu yang memiliki nilai historis tinggi.

“Tempat ini bukan sekadar kompleks pemakaman tokoh berpengaruh, tetapi juga sebagai simbol peradaban Islam Tana Luwu. Situs ini memiliki potensi besar karena nilai historisnya yang begitu luar biasa,” ujarnya.

Diketahui, Datuk Pattimang merupakan salah satu dari tiga ulama besar asal Minangkabau yang berperan dalam penyebaran Islam di jazirah Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Tana Luwu.

Ia juga menegaskan bahwa kompleks makam tersebut mencerminkan perpaduan antara nilai spiritual Islam dengan adat istiadat lokal.

“Makam ini adalah simbol akulturasi yang mencerminkan perpaduan antara nilai spiritual Islam dan adat istiadat Tana Luwu yang sangat kental dan sakral,” lanjutnya.

Lebih jauh, Andi Rahim menekankan pentingnya pengelolaan kawasan secara optimal agar memberikan dampak nyata bagi daerah.

“Kompleks Makam Datuk Pattimang ini harus kita kembangkan menjadi objek wisata religi yang representatif. Jika makam ini dikelola dengan baik, insya Allah, akan berdampak positif terhadap pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat kita,” tuturnya, sebagaimana dikutip dari Palopo Pos.

Sementara itu, dukungan juga datang dari kalangan akademisi UIN Palopo. Prof. Dr. Muhaemin, M.A., menyampaikan respons positif terhadap gagasan tersebut, termasuk pengembangan kawasan makam tokoh Islam lainnya di Malangke seperti Datuk Sulaiman.

Menurutnya, penguatan fungsi kawasan makam sebagai wisata religi harus dibarengi dengan pendekatan edukatif.

“Datuk Sulaiman adalah pembawa Islam di Sulawesi Selatan, sehingga dalam narasi sejarah Islam Nusantara, beliau memiliki peran penting yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.

Ia menilai, rendahnya kunjungan ke kompleks makam selama ini disebabkan minimnya informasi serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.

Karena itu, ia mendorong adanya pengembangan fasilitas seperti perpustakaan sejarah Islam, penyediaan pemandu wisata profesional, serta pembangunan penginapan di sekitar kawasan makam.

“Revitalisasi harus diarahkan tidak hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi sejarah Islam yang komprehensif,” tegasnya.

Komentar