Luwu Utara – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Luwu Utara menuai kritik dari kalangan mahasiswa. Penjabat (PJ) Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Luwu Utara, Denny, menilai kemeriahan yang ditampilkan pemerintah daerah tidak sejalan dengan kondisi riil masyarakat, khususnya tenaga honorer dan persoalan infrastruktur yang belum terselesaikan.
Dalam pernyataannya, Denny menyebut perayaan HUT seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar ajang hiburan yang sarat euforia. Ia menyoroti kontras antara panggung megah dengan hadirnya artis ibu kota dan kondisi tenaga honorer yang hingga kini masih menunggu kejelasan hak mereka.
“Bagaimana mungkin kita menikmati kemeriahan, sementara masih banyak tenaga honorer yang harus bertahan hidup dengan gaji yang belum dibayarkan,” tegas Denny.
Menurutnya, kebijakan menghadirkan hiburan besar merupakan pilihan, sementara pemenuhan hak pegawai adalah kewajiban yang tidak bisa ditunda. Ia menilai, penggunaan anggaran daerah yang lebih berorientasi pada kegiatan seremonial berpotensi mencederai rasa keadilan sosial.
Denny juga menyoroti persoalan infrastruktur di Luwu Utara yang hingga kini belum menunjukkan perbaikan signifikan. Ia menyebut kondisi tersebut bahkan telah menimbulkan korban, akibat minimnya perhatian dan fokus pemerintah daerah dalam menyelesaikan kebutuhan dasar masyarakat.
“Bukan hanya soal gaji honorer, infrastruktur yang tak kunjung selesai juga menjadi masalah serius. Ini bukan sekadar keluhan, tapi sudah berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menggambarkan adanya “sesak” yang dirasakan masyarakat di balik gemerlap perayaan. Sesak karena janji yang belum terpenuhi, kebutuhan hidup yang terus mendesak, hingga rasa ketidakadilan yang dirasakan para tenaga honorer.
Denny menegaskan bahwa perayaan HUT seharusnya tidak menjadi ajang pencitraan semata, melainkan momentum untuk memastikan kesejahteraan masyarakat benar-benar terpenuhi.
“Perayaan yang paling bermakna bukan yang paling meriah, tetapi yang mampu membuat seluruh masyarakat tersenyum karena hak mereka dipenuhi,” katanya.
Ia pun mengingatkan pemerintah daerah agar tidak menutup mata terhadap persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, sorak-sorai perayaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan jeritan masyarakat yang masih menunggu keadilan.
“Jangan biarkan sorak-sorai malam ini menutup telinga terhadap jeritan yang belum terselesaikan,” tutup Denny.







Komentar