Kehadiran Ramadhan bukan sekadar Narasi Spiritualitas Relegius, melainkan momentum Transformasi

Opini260 Dilihat

Oleh: ABD. AZIS A.

Opini -Ramadhan, ia bukan hanya cerita tentang pahala, surga, dan dimensi metafisik. kehadiran Ramadhan adalah momentum pembentukan manusia, gerakan sosial, dan proyeksi rekonstruksi mengawal era Peradaban.
Jika Ramadhan hanya dipahami sebagai Ritual tahunan-Puasa, Tarawih, dan Tadarrus, maka ia berhenti pada makna simbolik. Pada hakikatnya lebih dalam dari sebuah Eksistensi.
A. Ramadhan sebagai Proses Pembentukan Karakter atas keberadaan manusia.
Puasa melatih:
– Disiplin diri;
– Kejujuran batin;
– Pengendalian hawa nafsu, dan
– Kesadaran akan pengawasan Allah _muraqabah_.
Tujuan akhirnya adalah Takwa-sebuah kualitas Moral yang harus tercermin dalam perilaku Sosial.
_“…La‘allakum tattaqun”_
…agar kamu bertakwa.
[QS. Al-Baqarah: 183]
Takwa bukan konsep Abstrak, tetapi energi Etis yang menggerakkan tindakan nyata.

B. Ramadhan sebagai Gerakan Sosial
Ramadhan menghadirkan:
– Lembaga zakat sebagai penggerak distribusi Ekonomi;
– Solidaritas terhadap kaum Dhuafa;
– Kepedulian Kolektif; dan
– Kebersamaan Umat.
Spiritualitas tidak berhenti di putaran sajadah, melainkan hadir dan ber-muamalah, di kediaman-kediaman kaum dhuafa, dan yang terpenting lagi di ruang-ruang sosial multi kultur.

C. Ramadhan sebagai Momentum Transpormatif.
Sejarah hadir sebagai delegasi yang meneguhkan arti dari sebuah historis:
– Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan _revolusi ilmu dan nilai_
[17 Ramadhan(06 Agustus 610M) ]
– Perang Badar terjadi di bulan Ramadhan _keteguhan moral dan politik_
[17 Ramadhan 2 H (sekitar 13 Maret 624 M)]
– Fathul Makkah terjadi di bulan Ramadhan _rekonsiliasi dan awal sebuah peradaban baru_
[10-20 Ramadhan 08 H(630 M)]

Dalam peristiwa tersebut, Ramadhan adalah bulan perubahan besar-bukan bulan pasif yang terjadi hanya romantisme religius.

D. Dari Spiritualitas ke-Aksi Nyata.
Ramadhan adalah Ruh dan peran strategi, melahirkan:
– Kepemimpinan yang ber-Integritas;
– Lembaga zakat yang Profesional;
– Gerakan sosial yang terOrganisir;
– Etika ekonomi yang berkeadilan.
Demikian itu, Ramadhan bukan sekadar _narasi spiritualitas,_ tetapi hadir sebagai _laboratorium transformasi_ manusia dan masyarakat.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Beliau menekankan. “_Peran penting lembaga sosial mengawal era peradaban melalui literasi yang bernuansa edukatif berbasis pelayanan publik-ummat._
_Pesantren/zawiyah menjadi pusat pendidikan dan bantuan sosial._
_Lembaga harus berpihak kepada kaum dhuafa._
_Dengan spirit spritual diwujudkan dalam kedermawanan dan pembinaan masyarakat._
_Artinya, lembaga sosial dalam kajian pemikir Islam bersifat Inklusif dan Transformatif.”_

Ramadhan bukan sekadar narasi spiritualitas religius yang berhenti pada ruang-ruang ritus, tetapi energi transformatif yang menggerakkan kesadaran sosial, membangun etika publik, dan menata serta mengawal peradaban.

Komentar