PALOPO – Ceramah tarawih Sahabat Hasnawir Madehang Sanatu (HMS) berlangsung khusyuk di Masjid Nurul Yasin Binturu, Selasa (24/02/2026). Dalam tausiyah bertema “Memahami Keutamaan Puasa sebagai Penghapus Dosa”, ia menegaskan bahwa kemuliaan puasa ditegaskan secara jelas dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi.
Ayat Al-Qur’an tentang Puasa
HMS membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ia menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan inilah yang menjadi sebab utama dihapuskannya dosa, karena orang yang bertakwa akan menjaga diri dari maksiat.
Hadis tentang Puasa sebagai Penghapus Dosa
HMS kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muhammad dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ia menekankan bahwa syarat penghapusan dosa adalah īmānan (karena iman) dan ihtisāban (mengharap pahala dari Allah semata).
Hadis lain yang disampaikan:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai yang dimaksud adalah pelindung dari api neraka dan dari perbuatan dosa.
Peringatan agar Puasa Tidak Sia-Sia
HMS juga mengingatkan hadis Nabi:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Menurutnya, puasa sejati bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, serta hati dari maksiat.
Ceramah tarawih malam itu ditutup dengan ajakan untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum taubat nasuha dan perbaikan diri. Jamaah diharapkan tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga keluar dari bulan suci dengan jiwa yang bersih dan dosa yang diampuni.















Komentar