Reproduksi Gagasan, Ya Harus Menulis

Opini142 Dilihat

‘Syarat jadi penulis ada tiga, yaitu: Menulis, Menulis, dan Menulis’. (Prof. Kuntowijoyo)

OPINI – Ungkapan di awal tulisan menurut saya quotes yang luar biasa, apa yang mesti kita kembangkan, apa yang mesti harus menjadi tolak ukur jika ingin menjadi penulis lantas enggan untuk menulis.

Saya menyadari, bahwa aktifitas menulis tidak boleh berhenti hanya sampai pada satu atau dua tulisan, akan tetapi aktifitas menulis harus terus berkesinambungan.

Kemahiran menulis lahir dari proses yang tidak instan, ada beberapa tahapan-tahapan yang harus terus dikembangkan. Penulis hebat lahir dari aktifitas baca yang hebat. Artinya apa, aktifitas baca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan, atau kata lain simbiosis-mutualisme, keterkaitan keduanya sangat penting, karena keduanya penentu produksi dan reproduksi gagasan.

Tulisan ini lahir dari aktifitas baca penulis yang mengkonsumsi buku yang ditulis oleh Prof. Ngainun Naim, Guru Besar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Beberapa catatan kritis dalam buku beliau menghantar saya untuk perlahan melahap halaman demi halaman buku, hingga tulisan ini terbit, penulis masih membaca buku tersebut, saya menganggap buku tersebut harus dibaca secara perlahan, karena sarat makna dari halaman ke halaman.

Dari hasil bacaan saya sedikit akan menguraikan tulisan beliau soal salah satu metode menulis yang harus kita praktekkan adalah menulis dilakukan seperti Ngemil, pembaca tau ngemilkan?. Ngemil identik dengan perempuan, walaupun kita tau laki laki juga ada yang suka ngemil, namun biasanya kita jumpai ada perempuan pada saat kemana mana selalu tersedia Snack dan sejenisnya di dalam kantong tas. Snack tersebut dilahap secara perlahan sedikit demi sedikit pada rentang waktu tertentu hingga habis.

Nah, menulis bisa kita praktekkan dengan gaya ngemil, menulis tidak harus menyelesaikannya dalam sekali duduk, menulis bisa dilakukan dengan step by step. Ini yang biasanya menjadi kekurangan kita, seringkali kita menulis langsung ingin selesai saat itu juga, sehingga kadangkala muncul rasa jenuh, bosan, hingga akhirnya tulisan mangkrak.

Beberapa metode menulis bisa kita praktekkan, namun sebagai seorang penulis tentu memiliki karakter menulis tersendiri, namun kadangkala kita harus mencoba metode baru pada waktu-waktu tertentu.

Menulis tidak hanya bicara soal honorarium, namun menulis adalah membagi ide, mereproduksi hasil bacaan, serta mengikat hasil bacaan agar tidak berlalu begitu saja.

Ada beberapa penulis besar yang awal mulanya mereka tampil dan tidak membayangkan tulisannya akan di muat di media bahkan diterbitkan oleh penerbit ternama, contohnya penulis buku best seller J.K Rowling, siapa yang tidak mengenal J.K Rowling, dia adalah penulis buku Harry Potters yang beberapa kali ditolak penerbit inggris untuk diterbitkan. Namun karena konsistennya menulis, akhirnya salah satu penerbit buku menerbitkan karya J.K Rowling, tak hanya diterbitkan dalam bentuk buku, karyanya Harry Potters membius sekian banyak penonton saat di rilis menjadi sebuah film.

Sahabat pembaca, ketakutan kita selama ini soal menulis harus dilawan dengan keberanian menulis, tak pernah ada representasi gagasan selama itu tidak melahirkan sebuah tulisan, karena selama fisik gagasan itu ada, selama itu pula gagasan akan tetap utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *