Oleh: Hasnawir Madehang Sanatu(HMS)
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu tonggak spiritual paling monumental dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW, melainkan sebuah konstruksi nilai yang memadukan dimensi akidah, ibadah, dan peradaban. Dalam realitas kehidupan modern yang ditandai oleh kompleksitas tantangan moral, sosial, dan kemanusiaan, refleksi Isra Mi’raj menjadi sangat relevan sebagai pijakan untuk membangun hidup yang berkemajuan sekaligus penuh keberkahan.
Allah SWT mengabadikan peristiwa Isra dalam Al-Qur’an sebagai tanda kebesaran-Nya:
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual yang sarat visi ilahiah. Kata “linuriyahu min ayatina” (agar Kami perlihatkan sebagian tanda-tanda Kami) mengandung pesan bahwa Islam mendorong umatnya untuk membaca tanda-tanda Tuhan, baik dalam dimensi spiritual maupun dalam realitas sosial. Inilah fondasi kemajuan: kemampuan memahami wahyu dan realitas secara integratif.
Secara historis, Isra Mi’raj terjadi pada fase paling sulit dalam kehidupan Rasulullah SAW, setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Hal ini mengajarkan bahwa kemajuan sejati sering kali lahir dari kesabaran dan keteguhan iman di tengah krisis. Allah SWT berfirman:
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Dari peristiwa Mi’raj, umat Islam menerima perintah shalat lima waktu, ibadah yang menjadi pilar utama pembentuk karakter. Rasulullah SAW bersabda:
“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”
(HR. Tirmidzi)
Shalat tidak hanya bermakna ritual, tetapi juga sarana pembinaan etika, disiplin, dan kesadaran sosial. Al-Qur’an menegaskan fungsi transformatif shalat:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Dalam konteks kehidupan modern, nilai shalat sangat relevan dengan konsep hidup berkemajuan. Ketepatan waktu, konsistensi, dan tanggung jawab yang dilatih melalui shalat merupakan modal sosial penting bagi terbentuknya individu produktif dan berintegritas. Kemajuan tanpa integritas hanya akan melahirkan krisis kepercayaan dan kerusakan sosial.
Dimensi sosial Isra Mi’raj juga tercermin dari singgahnya Rasulullah SAW di Masjidil Aqsa, simbol persatuan risalah dan kemanusiaan universal. Hal ini mengajarkan bahwa kemajuan harus bersifat kolektif dan berkeadilan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa keberkahan hidup tidak diukur dari seberapa besar capaian pribadi, melainkan dari sejauh mana manfaat itu dirasakan oleh orang lain. Inilah prinsip keberkahan yang bersifat sosial dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Isra Mi’raj membentuk visi transendental umat Islam. Perjalanan Nabi menembus langit mengajarkan bahwa manusia harus memiliki orientasi akhirat tanpa mengabaikan tanggung jawab duniawi. Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menegaskan keseimbangan antara spiritualitas dan kemajuan material. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan ekonomi harus diarahkan untuk kemaslahatan, bukan sekadar akumulasi keuntungan.
Pada akhirnya, refleksi Isra Mi’raj mengajak umat Islam untuk melampaui pemaknaan seremonial. Ia adalah panggilan untuk transformasi diri dan masyarakat. Hidup berkemajuan dan penuh berkah hanya akan terwujud ketika nilai tauhid melahirkan etos kerja, shalat membentuk integritas, dan iman mewujud dalam kepedulian sosial. Dengan demikian, Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa yang diperingati, melainkan sumber inspirasi peradaban yang menuntun manusia menuju kehidupan yang bermakna, adil, dan diridhai Allah SWT.








Komentar