Oleh: Najikha Akhyati ( Akademisi dan Pemerhati Sosial )
Setiap hari, jutaan manusia secara sukarela membakar gulungan kertas berisi tembakau, lalu menghirup asapnya ke dalam dada. Aktivitas yang jamak disebut merokok ini telah menjadi bagian dari gaya hidup modern, ritus pergaulan, bahkan dianggap sebagai instrumen penenang pikiran. Namun, jika kita menanggalkan bias habituasi dan melihatnya secara jernih dari kacamata medis maupun teologis, aktivitas ini sebenarnya adalah sebuah anomali besar dalam logika bertahan hidup manusia. Rokok, dalam setiap isapannya, tidak lain adalah kurir yang secara konsisten membawa racun ke dalam badan.
Secara medis, tidak ada satu pun jurnal ilmiah yang mampu menemukan manfaat biologis dari sebatang rokok untuk tubuh manusia. Alih-alih memberi nutrisi, rokok memasok lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk tar, karbon monoksida, hingga nikotin. Tubuh manusia sebuah mahakarya biologis yang dirancang untuk menjaga kehidupan terpaksa harus menyaring racun-racun ini setiap hari. Merokok sama saja dengan melakukan sabotase perlahan terhadap organ-organ vital kita sendiri.
Fakta empiris ini membuka ruang kontemplasi yang sangat krusial bagi seorang Muslim ketika dihadapkan pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an. Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk mengonsumsi apa yang halal, tetapi juga menekankan satu syarat mutlak lainnya: thayyib (baik/sehat). Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik (thayyib) yang terdapat di bumi…” (QS. Al-Baqarah: 168).
Konsep thayyib bukan sekadar status hukum yang menempel pada benda, melainkan substansi dampak yang dihasilkan oleh benda tersebut bagi tubuh. Sesuatu yang thayyib seharusnya membangun sel, memberi energi, mendatangkan kesehatan, dan menjaga keberlangsungan hidup. Sementara itu, rokok berada di kutub yang berlawanan secara ekstrem. Mengonsumsi rokok, yang jelas-jelas merusak paru-paru, menyumbat jantung, dan memicu kanker, menjadi sangat tidak relevan dan kontradiktif dengan perintah esensial untuk menjaga tubuh dengan konsumsi yang thayyib. Bagaimana mungkin sesuatu yang merusak secara masif dapat disandingkan dengan konsep kebaikan yang dikehendaki oleh Sang Pencipta?
Lantas, mengapa begitu banyak orang cerdas yang tetap terjebak dalam lingkaran asap ini meskipun mereka tahu bahayanya? Jawabannya terletak pada satu sifat jahat dari rokok: addict atau adiktif. Nikotin di dalam rokok bekerja membajak sistem penghargaan di otak (brain’s reward system), memanipulasi hormon dopamin sehingga menciptakan ilusi ketenangan yang semu. Sifat adiktif inilah yang merenggut kebebasan berpikir logis penggunanya, mengubah kebutuhan buatan menjadi seolah-olah kebutuhan primer.
Untuk memahami betapa absurdnya jebakan adiktif ini, bayangkan sebuah analogi tentang sebuah rumah mewah dan sistem alarmnya.
Tubuh kita adalah sebuah rumah mewah yang dilengkapi dengan sistem alarm kebakaran super canggih. Ketika ada asap atau bahaya masuk, alarm (berupa rasa batuk, sesak, atau mual) akan berbunyi sebagai tanda peringatan.
Namun, merokok secara konsisten ibarat sengaja memasukkan seorang penyusup jahat ke dalam rumah tersebut. Penyusup ini tidak hanya merusak perabotan, tetapi secara perlahan memotong kabel alarm kebakaran kita. Ketika kabelnya putus, sang pemilik rumah merasa “tenang” karena tidak ada lagi bunyi alarm yang berisik. Padahal, ketenangan itu adalah ilusi mematikan; rumah tersebut sebenarnya sedang terbakar habis dari dalam tanpa disadari pemiliknya, sampai akhirnya struktur rumah itu runtuh total.
Sifat adiktif rokok adalah penyusup yang memutus kabel kesadaran tubuh kita. Rasa tenang yang didapatkan setelah merokok bukanlah karena rokok itu bermanfaat, melainkan karena tubuh sedang melepas kecanduan sesaat dari efek nikotin sebelumnya – sebuah lingkaran setan yang tidak berujung.
Pada akhirnya, menjaga tubuh adalah bentuk pertanggungjawaban teologis yang tinggi. Tubuh ini adalah amanah, bukan hak milik mutlak yang boleh kita rusak sesuka hati. Ketika sains telah ketat membuktikan bahwa rokok membawa racun tanpa manfaat, dan agama telah tegas memerintahkan kita untuk hanya memasukkan hal-hal yang halal lagi thayyib ke dalam diri, maka berhenti merokok bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup sehat. Ia adalah sebuah pernyataan iman, sebuah langkah konkret untuk menyelaraskan perilaku kita dengan tuntunan Illahi, serta bentuk penghormatan tertinggi terhadap hak hidup yang telah dianugerahkan-Nya. Sudah saatnya kita mematikan bara rokok, sebelum ia mematikan perlahan kehidupan di dalam diri kita.








Komentar