Memaknai Isra Mi’raj 2026, sebagai Revitalisasi Hidup: “Sederhana dan Jujur”

Opini161 Dilihat

Penulis: Hasnawir Madehang Sanatu(HMS)

Kita tidak perlu kacamata rumit untuk memahami perjalanan luar biasa Nabi. Di tahun 2026, yang serba cepat ini, pesan Isra Mi’raj sebenarnya sangat dekat dengan hati dan keseharian kita yang sederhana.

Ada 3 Point utama, yang mesti kita jadikan revitalisasi (renungan dan refleksi) me-ingat sosok sang kekasih pujaan hati Allah SWT, sosok mulia dan teladan yakni Baginda Nabi Muhammad Saw yakni ialah:

1. Kecerdasan buatan manusia yang tetap Membumi,

Sekarang kita sudah di tahun 2026, di mana robot dan HP pintar seolah bisa menjawab semua keinginan kita. Tapi perjalanan Isra Mi’raj mengingatkan satu hal: sehebat apa pun buatan manusia, tetap ada kekuasaan Tuhan yang tidak bisa diukur dengan angka. Perjalanan Nabi dari Makkah ke Yerusalem lalu ke langit itu adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa logika kita punya batas. Jadi, secanggih apa pun dunia nanti, kita diajak untuk tidak sombong.

Kalau hari ini orang-orang sibuk bermimpi ingin tinggal di luar angkasa, Nabi Muhammad SAW sudah lebih dulu diperlihatkan indahnya langit tertinggi.
Namun, perjalanan beliau bukan soal pamer teknologi, melainkan soal kedekatan hati dengan Allah. Ini jadi pelajaran buat kita; boleh saja kita mengejar kemajuan zaman, tapi jangan sampai kita kehilangan jati diri dan lupa siapa yang sebenarnya memberikan kita napas dan kecerdasan.

2. Harapan Saat Hati Sedang Lelah,

Perlu kita ingat, Nabi diberi hadiah perjalanan ini saat hatinya sedang sangat sedih karena kehilangan orang-orang tercinta. Di tahun 2026 ini, saat banyak dari kita merasa stres atau tertekan karena tuntutan hidup, cerita ini jadi pelipur lara. Artinya, di balik kesulitan pasti ada kemudahan yang sedang disiapkan Tuhan. Kita tidak sendirian, dan rasa sedih itu manusiawi, asalkan kita tetap punya harapan bahwa hari esok akan lebih baik.

Oleh-oleh paling penting dan terindah dari Isra Mi’raj adalah *Salat,* Di dunia, yang penuh notifikasi dan jarang bisa diam ini, salat sebenarnya adalah waktu ‘istirahat’ yang paling tulus. Anggap saja salat itu seperti kita mematikan HP sejenak untuk bicara langsung dengan Tuhan. Dengan begitu, hati kita jadi tidak gampang goyah meski dunia di sekitar kita berputar sangat cepat dan kadang membingungkan.

3. Hidup Rukun dan Penuh Syukur,

Saat Nabi memimpin salat, bersama nabi-nabi terdahulu, ada pesan indah tentang kebersamaan. Di tahun 2026, kita butuh lebih banyak gotong royong daripada sekadar menang sendiri. Kita diajak untuk jadi orang, yang ramah dan suka menolong, persis seperti sifat Nabi yang selalu membawa kedamaian bagi siapa saja di sekelilingnya, tanpa memandang perbedaan golongan, suku, dan rasa mana pun.

Intinya ialah, merayakan Isra Mi’raj tahun ini, adalah tentang keseimbangan diri. Kita boleh jadi orang modern, yang melek teknologi, tapi hati kita harus tetap punya ‘pegangan’ agama yang kuat (tauhid dan akidah). Hidup di masa depan itu, indah kalau kita bisa menyatukan kemajuan dunia dengan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Alloh SWT (habluminanas). Semoga, kita bisa menjadi pribadi yang rajin bekerja, tetapi juga tidak pernah putus dalam berdoa (ber-islah diri) kepada Alloh Swt.

Sebagai simpulan untuk kita semua, mari kita jadikan “Isra mi’raj nabi Muhammad Saw.” Sebagai momentum refleksi diri kita untuk menjadi lebih baik lagi, dari hari-hari sebelumnya. Hidup hanya sekali, maka mari kita pergunakan hidup kita ini dengan sebaik-baiknya (amal ma’ruf nahi mungkar). Semoga, kita semua mendapatkan ridho Allah selama kita hidup di dunia ini sampai Yaumil Akhirat kelak. Aamiin.

Komentar