Ketika Diam Tak Lagi Tenang: Relevansi Cerpen “Sunyi yang Gaduh” bagi Dunia Pendidikan

Opini241 Dilihat

PENULIS: Evi Retno Cristiyan Dewi

OPINI – Di tengah dunia pendidikan yang kian bising oleh target capaian, administrasi, dan arus digital, kesunyian justru menjadi fenomena yang patut dicurigai. Sebuah penelitian sastra terbaru mengungkap bahwa diam tidak selalu menandakan ketenangan, tetapi bisa menjadi tanda ketertekanan yang tak terucap, baik pada siswa maupun guru.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Evi Retno Cristiyan Dewi, yang mengkaji cerpen “Sunyi yang Gaduh” karya Sahari Nor Wakhid dengan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menyoroti bagaimana karya sastra merepresentasikan realitas sosial berupa konflik batin, tekanan struktural, dan budaya diam yang masih relevan dengan kondisi pendidikan saat ini.

Cerpen “Sunyi yang Gaduh” menggambarkan individu yang tampak patuh dan tenang secara lahiriah, tetapi menyimpan kegaduhan batin akibat tekanan sosial. Menurut hasil penelitian, kesunyian dalam cerita bukanlah pilihan personal tokoh, melainkan produk relasi sosial yang membungkam suara individu secara halus dan sistematis.

“Situasi ini paralel dengan kondisi siswa masa kini yang sering kali memilih diam di kelas, bukan karena memahami, melainkan karena takut salah, tidak percaya diri, atau merasa suaranya tidak penting,” tulis peneliti dalam kajiannya. Dalam konteks pendidikan, diam dapat menjadi gejala keterasingan, bukan indikator keberhasilan pembelajaran.

Penelitian tersebut juga menyinggung posisi guru yang tidak jarang mengalami kegaduhan serupa. Tuntutan kurikulum, beban administratif, serta ekspektasi sosial membuat sebagian guru tampil patuh dan profesional di permukaan, namun menyimpan tekanan psikologis yang jarang mendapat ruang dialog. Dalam cerpen, kondisi ini direpresentasikan melalui tokoh utama yang “menjalani hari-harinya dengan patuh, meskipun hatinya terus mempertanyakan.”

Dengan metode deskriptif kualitatif dan teknik analisis isi, penelitian ini menelaah hubungan antara penokohan, konflik batin, dan struktur sosial dalam cerita. Tokoh-tokoh pendukung dalam cerpen diposisikan sebagai simbol masyarakat yang menormalisasi keadaan dengan ungkapan seperti “semua akan baik-baik saja selama tidak dipersoalkan.” Sikap ini dinilai relevan dengan budaya pendidikan yang kerap menghindari dialog kritis demi menjaga ketertiban semu.

Peneliti menegaskan bahwa karya sastra dapat menjadi cermin reflektif bagi dunia pendidikan. Cerpen “Sunyi yang Gaduh” menunjukkan bahwa kegaduhan tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka, tetapi justru tumbuh subur dalam ruang-ruang sunyi yang diabaikan.

Melalui pendekatan sosiologi sastra, penelitian ini menempatkan cerpen sebagai dokumen sosial yang merekam kegelisahan manusia modern, termasuk siswa dan guru, di tengah perubahan sosial yang cepat. Sastra, dalam hal ini, berperan sebagai medium kritik sosial sekaligus sarana empati.

Penelitian ini diharapkan mendorong pendidik dan pemangku kebijakan untuk lebih peka terhadap “diam” di ruang kelas dan sekolah. Sebab, di balik kesunyian itu, bisa jadi terdapat suara-suara yang paling membutuhkan untuk didengar. (ER/2026)

Komentar