Indonesia Tanpa Budaya? Sebuah Bangsa yang Kehilangan Jiwa

Opini97 Dilihat

Penulis: Yustriannisyah Putri (Mahasiswa Program Studi pendidikan Agama Islam UIN Palopo)

Bayangkan sejenak sebuah peta besar yang membentang di garis khatulistiwa, namun kehilangan seluruh warnanya. Tidak ada lagi gema gamelan di tanah Jawa, tidak ada hentakan kaki tari Kecak yang magis, dan tak terdengar lagi tutur bahasa daerah yang merdu di pelosok Papua hingga Aceh.

Jika Indonesia melepaskan seluruh keberagaman budayanya, apa yang tersisa? Jawabannya mengejutkan sekaligus getir, kita hanya akan menjadi sekelompok orang yang tinggal di atas tanah yang sama, namun kehilangan jiwa dan jati diri.

Keberagaman bukanlah sekadar “pajangan” di museum atau pertunjukan untuk menyambut tamu negara, melainkan oksigen yang membuat bangsa ini tetap bernapas di tengah badai globalisasi yang cenderung menyeragamkan segala hal.

Saat ini, kita hidup di era di mana batas antarnegara semakin kabur oleh arus informasi digital. Ada kecenderungan besar untuk menjadi “fotokopi” dari budaya lain demi terlihat modern. Namun, ironinya, bangsa yang paling dihormati di dunia justru adalah mereka yang paling kuat memegang akarnya.

Keberagaman budaya Indonesia adalah modal sosial yang tak ternilai harganya, sebuah “teknologi sosial” yang telah teruji selama berabad-abad. Nilai-nilai seperti gotong royong, pela gandong, hingga semangat kekeluargaan bukanlah teori yang dipelajari di bangku sekolah, melainkan DNA yang membuat masyarakat kita tetap tangguh menghadapi berbagai krisis. Tanpa perekat sosial ini, ego kelompok akan dengan mudah menghancurkan struktur kebangsaan kita.

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa keberagaman bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan mesin penggerak masa depan. Di dalam setiap motif batik, setiap arsitektur rumah adat, hingga setiap resep kuliner nusantara, terkandung kecerdasan intelektual dan kreativitas yang luar biasa.

Jika kita mampu mengelola kekayaan identitas ini dengan cara yang modern, keberagaman akan menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang tak tertandingi di kancah global. Kita tidak perlu menjadi bangsa lain untuk terlihat hebat, kita hanya perlu menjadi Indonesia yang paling otentik.

Pada akhirnya, menjaga keberagaman budaya adalah satu-satunya jalan yang kita miliki untuk tetap berdiri tegak sebagai sebuah negara. Mempertahankan identitas nasional bukan berarti menutup diri dari kemajuan, melainkan membawa identitas tersebut sebagai kompas dalam melangkah maju.

Kita harus memilih: ingin menjadi bangsa yang kehilangan arah karena melupakan asal-usulnya, atau menjadi bangsa yang merayakan setiap perbedaan sebagai harmoni yang menguatkan. Sebab, tanpa budaya yang beragam, Indonesia bukan lagi Indonesia yang kita kenal, ia akan kehilangan cahayanya dan perlahan memudar dalam sejarah dunia.

Komentar