Penulis : M Iqbal Farochi (Rakyat Biasa)
Sebagai warga mesuji saya benar-benar gagal paham dengan kecerdasan di balik proyek pengurukan jalan utama di Mesuji baru-baru ini. Jika tujuannya adalah untuk memperbaiki akses, jelas itu gagal total. Jika tujuannya untuk membuang-buang anggaran secara elegan, barulah saya angkat jempol.
‎
‎Sebab, pemandangan yang kita lihat hari ini adalah sebuah ironi yang menyesakkan dada jalanan yang kemarin sempat dipoles, kini sudah kembali ke setelan pabrik berlubang, hancur, dan penuh jebakan maut.
‎
‎Hebatnya lagi, proyek urukan ini berhasil mengubah jalan raya kita menjadi seperti di film. Setiap kali ada mobil melintas, debu yang beterbangan sudah seperti kabut tebal yang menelan jarak pandang. Kita tidak hanya sedang bertaruh nyawa dengan lubang yang kembali menganga, tapi juga sedang dipaksa melakukan terapi paru-paru dengan menghirup debu dijalanan sisa proyek uruk jalan yang kualitasnya entah apa itu.
‎
‎Saya jadi bertanya-tanya, apakah memang ini tujuannya? Apakah pemerintah memang sengaja menciptakan efek kabut ini agar kerusakan jalan tidak terlihat jelas oleh mata? Atau agar para pejabat yang lewat tidak perlu melihat realita di balik kaca mobil mereka yang tertutup rapat?
‎
‎Sepertinya ada logika yang hanya dipahami oleh para pembuat kebijakan dan membuat kita bertanya.
‎
‎1.Mengapa tidak di bangun dengan aspal yang awet atau dengan beton yang kokoh?
‎2. Berapa banyak uang rakyat yang terbuang sia-sia di lubang-lubang itu hanya untuk kembali jadi debu dalam hitungan minggu?
‎
‎Ini bukan pembangunan, ini adalah ritual pemborosan yang sangat sistematis.
‎Jika pengurukan kemarin dilakukan hanya karena ada isu kunjungan pejabat, maka betapa murahnya harga diri daerah ini. Kita rela menghabiskan uang demi wajah sesaat di depan atasan, tapi membiarkan rakyatnya kembali mandi debu dan bertarung dengan lubang setelah sang pejabat pulang ke ibu kota.
‎
‎Berhentilah Menghibur Kami dengan Tanah Urukan, Cukuplah sudah sandiwara ini. Rakyat Mesuji tidak butuh pengurukan yang hanya bertahan seumur jagung. Kami bosan dijanjikan jalan mulus tapi yang didapat hanyalah mata yang perih dan asma karena debu dijalanan.
‎
‎Jika pemerintah memang tidak mampu membangun jalan yang layak, setidaknya janganlah menambah penderitaan kami dengan proyek urukan asal-asalan yang hanya membuat jalanan lebih berbahaya dari sebelumnya. Berhentilah membuang uang rakyat ke dalam lubang yang tidak pernah kenyang itu.








Komentar