Penulis : Dr. Yunus, S.Pd.I., M.Pd.I
Perubahan sosial yang cepat, kemajuan teknologi, target pelaporan akuntabilitas yang terus meningkat, dan dukungan finansial yang berfluktuasi adalah beberapa kekuatan utama yang menuntut pengawas sekolah untuk memiliki keterampilan mengelola perubahan secara efektif. Douglas Reeves, dalam bukunya tahun 2009, Leading Change in Your School (ASCD, Alexandria, VA), mengidentifikasi aspek-aspek penting dalam memimpin perubahan di sekolah. Pembahasannya yang komprehensif dan contoh-contoh praktis tentang bagaimana memimpin perubahan untuk meningkatkan prestasi siswa merupakan pengembangan dari artikelnya tentang topik serupa yang ditulis untuk Educational Leadership. Bidang keahlian yang ia identifikasi dan jelaskan untuk kepala sekolah ini juga sangat berharga bagi pengawas sekolah. Reeves merekomendasikan empat bidang penting bagi para pemimpin pendidikan yang ingin berhasil mengelola perubahan:
- Menciptakan kondisi untuk perubahan, termasuk melakukan penilaian untuk menentukan kesiapan personal dan organisasi terhadap perubahan.
- Merencanakan perubahan, yang mencakup catatan peringatan mengenai perencanaan strategis.
- Menerapkan perubahan, termasuk pentingnya beralih dari retorika ke realitas sehari-hari.
- Mempertahankan perubahan, yang meliputi kebutuhan untuk mengorientasikan kembali prioritas dan nilai-nilai sehingga kenyamanan individu memberi jalan pada rasa kebaikan bersama yang lebih besar.
Salah satu penulis paling persuasif dan produktif dalam beberapa dekade terakhir mengenai pengelolaan perubahan dalam pendidikan adalah Michael Fullan, profesor emeritus di Ontario Institute for Studies in Education, University of Toronto. Buku-buku terbarunya tentang memimpin perubahan dalam pendidikan antara lain The Six Secrets of Change, Realization (bersama Lyn Sharratt), Motion Leadership: The Skinny on Becoming Change Savvy, dan All Systems Go: The Change Imperative for Whole System Reform (Corwin Press, 2010). Dalam All Systems Go, Fullan menekankan pentingnya kepemimpinan dalam perubahan sistem sekolah yang berkelanjutan. Ia menyatakan, “Mengubah seluruh sistem pendidikan menjadi lebih baik, sebagaimana diukur dengan prestasi siswa, memerlukan kepemimpinan yang terkoordinasi di tingkat sekolah, komunitas, zona, dan pemerintah” (hlm. 36). Fullan juga menekankan perlunya para pemimpin pendidikan untuk membangun kapasitas kolektif demi perubahan dan perbaikan. Ia mengidentifikasi delapan karakteristik zona sekolah yang efektif yang muncul dari keberhasilan manajemen perubahan oleh para pemimpin dalam membangun kapasitas kolektif:
- Fokus: Memiliki arah yang jelas dan fokus tanpa henti pada pencapaian siswa melalui peningkatan pembelajaran di kelas. Ini adalah fokus sentral dan tunggal dari mana semua elemen lainnya dapat mengalir. Sebuah zona harus terus memperkuat intinya dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan guru, melibatkan siswa dalam pembelajaran, dan memastikan kurikulum menantang siswa.
- Data: Akses dan penggunaan data pembelajaran siswa sebagai strategi untuk peningkatan di kelas dan sekolah, serta untuk memantau kemajuan. Ini melibatkan pengembangan dan penggunaan sarana berkelanjutan untuk mendiagnosis kebutuhan siswa dan mengatasinya melalui respons pembelajaran yang spesifik.
- Kepemimpinan: Pengembangan kepemimpinan guru, kepala sekolah, dan zona untuk saling berbagi praktik efektif dan dari basis penelitian yang lebih luas. Peran kepemimpinan didefinisikan agar para pemimpin berpartisipasi sebagai pembelajar, bekerja sama dengan guru untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran.
- Sumber Daya: Mengalokasikan sumber daya sesuai dengan fokus ini tanpa bergantung pada pendanaan khusus satu kali. Sumber daya harus diselaraskan secara jelas untuk mendukung inti pengajaran dan pembelajaran dari pekerjaan zona.
- Mengurangi Pengganggu: Melakukan upaya terpadu untuk mengurangi hal-hal yang mengganggu dan melemahkan kapasitas guru dan kepala sekolah dalam menjalankan misi utama mereka. Zona yang efektif tidak mengambil terlalu banyak inisiatif sekaligus; birokrasi yang berlebihan, pesan yang tidak konsisten, berbagai inisiatif di luar kelas, dan konflik yang menyita waktu dan energi, semuanya mengalihkan fokus pencapaian siswa.
- Komunitas: Membangun hubungan dengan orang tua dan masyarakat serta lembaga terkait untuk memberikan dukungan bagi siswa dan pendidik, serta untuk melakukan intervensi dini jika terjadi kesulitan yang dialami oleh siswa dan sekolah.
- Komunikasi: Menjaga komunikasi yang konstan dan konsisten yang berfokus pada pesan inti di seluruh zona. Komunikasi yang jelas memastikan semua orang mengetahui fokus utama prioritas pengajaran dan pembelajaran serta cara mencapainya. Konsistensi dalam pesan sangat penting.
- Semangat Korps: Menciptakan rasa identitas dan kebersamaan di antara guru dan kepala sekolah, serta antara sekolah dan zona. Warga bangga dengan pekerjaan mereka dan pekerjaan rekan-rekan mereka, serta merasakan ikatan yang kuat dengan zona secara keseluruhan. Loyalitas mereka kuat, dan kompetisi kolaboratif mendorong sekolah untuk mencapai kinerja yang semakin baik.
Fullan mengidentifikasi delapan karakteristik zona sekolah yang efektif yang lahir dari manajemen perubahan yang sukses, yaitu: fokus yang jelas pada pembelajaran siswa, penggunaan data yang cerdas, kepemimpinan yang partisipatif, alokasi sumber daya yang strategis, pengurangan gangguan, pembangunan komunitas yang kuat, komunikasi yang konsisten, dan penanaman semangat korps. Secara keseluruhan, baik Reeves maupun Fullan menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tidak hanya bergantung pada ide-ide inovatif, tetapi juga pada kepemimpinan yang adaptif dan terkoordinasi, mampu membangun kapasitas kolektif, dan secara sistematis mengatasi tantangan untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal dan meningkatkan hasil belajar siswa.








Komentar